Tentang Mojokerto Bangkit

Sebuah gerakan bersama membangun mojokerto melalui cara sederhana dan kegiatan sederhana. Gerakan itu adalah sebuah komitmen kita untuk berupaya mengurangi sedikit demi sedikit apa yang tidak baik dalam diri dan lingkungan kita, kemudian sebaliknya dengan melakukan apapun yang mamang secara sadar itulah kebaikan dan bermanfaat untuk kita, daerah dan kehidupan. Tidak gampang, karena butuh komitmen dan dedikasi yang tinggi. Demikian juga sebaliknya tidak Sulit, karena kita ada dalam gerakan bersama.

Tidak gampang, karena butuh komitmen dan dedikasi yang tinggi. Demikian juga sebaliknya tidak Sulit, karena kita ada dalam gerakan bersama.

Kritik, Saran atau jika anda ingin kirim tulisan untuk dimuat di sini, silahkan kirim ke mojokertobangkit@gmail.com

Waria Penderita HIV Akhirnya Meninggal

Mojokerto Bangkit - Setelah menjalani perawatan selama sepekan, nyawa AT asal Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto yang diketahui menderita HIV/AIDS akhirnya tidak tertolong. Waria berusia 28 tahun diketahui meninggal dunia di kamar isolasi RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto, Senin (19/10) sekitar pukul 16.00.

Kondisi AT dalam catatan medis terus mengalami penurunan. Baik dari hemoglobin atau sel darah merah, tensi darah maupun kebebalan tubuhnya. Bahkan, beberapa jam sebelum meninggal, dia diketahui sempat mengalami kejang-kejang.

Plt Direktur RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, drg Sri Mujiwati mengungkapkan, dari data rekam medis perawat dan pendamping, kondisi kesehatan AT sejak Senin pagi memang kembali turun dari sebelumnya. Diantaranya tensi tubuhnya mencapai 80:50 dari angka normal laki-laki 120:80. Serta sempat mengalami kejang-kejang.

''Mungkin karena kekebalan tubuh dia semakin buruk. Setelah virus HIV/Aids terus menyerang," katanya. Menurutnya, selama tujuh hari dirawat di ruang isolasi kondisi kesehatan AT sempat mengalami naik turun. Bahkan, Minggu (18/10) lalu, HB yang masuk dan terserap dalam tubunnya pengganti darah yang hilang terserang virus mencapai tiga kantung.

''Kemarin memang sudah habis tiga bag (kantung ukuran PMI, Red). Paling tidak itu bisa menggantikan sel darah yang hilang karena terserang virus,'' imbuhnya.

Melainkan, melihat perkembangan terakhir, tim medis dan pendamping pasien melihat AT dalam kondisi krtitis. Meski suhu badannya tidak demam seperti sebelumnya, namun virus HIV/AIDS yang lama menggerogoti tubuh AT, menyebabkan kekebalan tubuhnya kian lama semakin berkurang.

Sehingga, terang Muji, AT sempat mengalami kejang-kejang sebelum dinyatakan meninggal dunia. ''Karena ini HIV/AIDS timbul kejang-kejang lantaran ketahanan tubuhnya bekurang," paparnya.

Mencatat kondisi yang buruk, pihak rumah sakit sebenarnya menyarankan agar pasien dirujuk ke RSU dr Soetomo Surabaya. Meski mendapat perawatan yang tidak jauh beda dengan di RSUD, namun keputusan merujuk AT dianggap tindakan terbaik untuk menyelamatkan nyawa pasien.

''Harapan kita akan ada fasilitas yang lebih. Tapi rupanya pihak keluarga tidak menghendaki dan memilih AT dirawat di rumah sakit," bebernya.

Dia menambahkan, untuk mencegah penularan virus HIV/AIDS pada manusia yang lain, rumah sakit lantas memutuskan memberi perlakuan khusus untuk memandikan jenazah AT. Yakni bekerjasama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes). Meliputi cara memandikan, alat yang digunakan, hingga kelengkapan baju pengaman yang digunakan petugas saat memandikan jenazah. Untuk kemudian dibawa ke rumah duka sebelum dimakamkan.

''Tidak dimasukkan dalam peti. Namun jenazah hanya dimasukkan dalam kantung jenazah khusus penderita HIV/AIDS," tegasnya.

Sementara itu, rencananya, jenazah AT oleh pihak keluarga akan dimakamkan langsung pada pagi ini, di tempat pemakaman umum (TPU) Losari Kecamatan Gedeg. ''Rencananya begitu, pihak korban memilih agar AT dimakamkan besok pagi (pagi ini, Red)," tutur Camat Prajurit Kulon, M. Ali Imron.

0 komentar:

Posting Komentar